Potret Aset Perkeretaapian Non-aktif
Jalur kereta api yang menghubungkan Kalisat (Jember) hingga Panarukan (Situbondo) kini menyajikan pemandangan yang jauh berbeda dari masa ketika jalur ini masih melayani perjalanan kereta api. Jalur Kalisat-Panarukan dinonaktifkan pada tahun 2004 karena kalah bersaing dengan kendaraan beroda karet. Selama proses hunting foto, penulis menyusuri jalur ini dan menjumpai sejumlah aset perkeretaapian yang masih berdiri, tetapi tidak semuanya memperoleh perhatian dan pemanfaatan yang sama. Ada bangunan yang beralih fungsi, ada yang dibiarkan rusak, dan ada pula yang masih dirawat sebagai ruang edukasi sejarah.
Perjalanan dimulai dari sebuah jembatan kereta api yang tidak jauh dari Stasiun Kalisat, pada jalur nonaktif menuju Panarukan. Struktur jembatan ini masih mudah dikenali, tetapi besi rel di atasnya sudah banyak yang hilang. Yang tersisa hanyalah rangka jembatan dan jejak jalur yang mengingatkan bahwa tempat ini pernah dilalui kereta api.

Kondisi berbeda terlihat di stasiun Sukowono yang masih dalam ligkup kabupaten Jember. Stasiun ini merupakan stasiun non aktif dengan jalur perkeretaapian yang mengarah ke Panarukan. Stasiun yang kini tidak lagi melayani perjalanan kereta api tersebut di manfaatkan sebagai kafe. Alih-alih terbengkalai, bangunan stasiun ini masih digunakan meskipun bukan lagi untuk aktivitas perkeretaapian.


Perjalanan berlanjut ke Stasiun Grujugan di Kabupaten Bondowoso. Berbeda dengan Stasiun Sukowono, bangunan stasiun ini berada dalam kondisi yang jauh lebih memprihatinkan: kaca pecah, ruang PPKA ditumbuhi rumput, cat kusam, dan atap genteng karatan. Bangunan utamanya tidak dimanfaatkan sehingga tampak seperti bagian dari masa lalu yang perlahan ditinggalkan. Pemanfaatan hanya terjadi pada area di sekitarnya, yaitu rumah dinas kepala stasiun yang dihuni warga dan gudang stasiun yang dipakai warga untuk menyimpan gabah.

Beranjak ke Stasiun Bondowoso, suasananya jauh berbeda. Bangunan stasiun masih terawat dan dimanfaatkan sebagai museum edukasi sekaligus tempat penjualan tiket kereta api. Keberadaan gerbong maut juga menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat identitas sejarah tempat ini. Stasiun Bondowoso tidak hanya dipertahankan sebagai bangunan lama, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk mengenalkan sejarah kepada masyarakat.


Kontras tersebut terasa semakin kuat ketika penulis tiba di Stasiun Panarukan, titik akhir jalur Kalisat–Panarukan. Bangunan stasiun yang tersisa kini ditempati satu keluarga. Fungsi perkeretaapiannya memang telah hilang, tetapi bangunan ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.


Hal yang menarik dari penelusuran ini bukan hanya apa yang telah hilang, tetapi juga apa yang masih bertahan. Di tengah kondisi sejumlah aset yang tidak terawat, masih ada rel dan kawat sinyal yang utuh. Tidak semua rel hilang dicuri atau dibongkar; pengamatan di lapangan justru memperlihatkan bahwa di beberapa bagian, besi rel masih berada di tempatnya.


Jalur Kalisat-Panarukan memang telah lama berhenti beroperasi, tetapi jejaknya belum sepenuhnya menghilang. Sebagian menjadi ruang usaha, sebagian menjadi museum, sebagian dibiarkan begitu saja, dan sebagian lainnya beralih menjadi tempat tinggal. Persoalannya bukan hanya mempertahankan rel dan bangunan lama, melainkan juga memaknai aset-aset eks perkeretaapian sebagai bagian dari sejarah. Sebab, ketika aset rusak satu demi satu dan jejak jalur menghilang, yang hilang bukan sekadar infrastruktur, melainkan juga cerita tentang kehidupan yang pernah terhubung, dan tumbuh di sepanjang jalur tersebut.
Penulis: Ardhan Firdaus
Fotografer: Ardhan Firdaus
Penyunting: Slamet Hariyadi
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!

