Puisi
Puisi-Puisi Edisi Spesial Hari Perempuan Sedunia: “Suara-Suara Yang Melawan”
Perempuan tidak lahir dari satu cerita. Ia hadir dari riwayat panjang tentang keberanian, luka, harapan, dan perlawanan yang tak selalu tercatat dalam sejarah. Kumpulan puisi ini hadir sebagai ruang untuk mengingat, merayakan, sekaligus menyuarakan kembali suara-suara perempuan—yang sering kali terpinggirkan, diremehkan, atau bahkan dibungkam. Selamat menikmati, salam Persma! Gugur Gema: Perempuan Gugur gema gumuh…
Tentang Malam yang Menolak Tenang
Di penghujung hari yang riuh, biasanya aku kembali dengan tubuh yang letih, membiarkan lelah menutup mata tanpa banyak bicara. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang terus berputar di kepala, seperti gema dari percakapan singkat yang belum sempat reda. Setiap kali mata terpejam, terbayang senyummu yang datang bersamaan dengan tanya: “Apa kabar?” Sederhana….
Rasa Kasih yang Tertinggal
Rasa Kasih yang Tertinggal Lambat laun bayangmu mulai pudar tak tersisa. Bergerak menjauh dari gelap, menyisakan aku sendiri. Tangan ini ingin meraih namun tak sampai. Setidaknya, berbaliklah sejenak tuk mengucap selamat tinggal kala itu. Seperti gulungan film yang memproyeksikan memori tentangmu, juga merindukan sosok hadirmu. Jika bukan karna selembar potret, mungkin aku sudah melupakanmu….
ELEGI ESOK HARI
Terjatuh, Tersungkur, Bersyukur. . Tangga yang kutapaki kian meninggi Langkah kaki yang kian ringkih Nafas pendek, layak untuk mati Buang jauh-jauh pesimisme mimpi Tangga menjadi lebih dangkal Langkah yang terjungkal Nafas telah menemui pangkal Kian berharap hidup kekal Duhai para mimpi Telah ku umumkan, Bahwa kaki ku patah dalam mengejarmu Aduhai mimpi-mimpi…
Ambara
Nama indah itu tersimpan Direlung terdalam Bukan rahasia lagi Dunia pun seolah mengakui Setiap aksara indah melukiskan Pikiran terus mendamba Irama seolah ikut berputar Kupu-kupu pun ikut serta Bola ini bersinar memandang Indah Serasa jika hilang Dunia ikut tak ada Walau tak mengetahui Hati seolah tak padam Terus menyeru Sempurna Biru…
Puisi-Puisi Edisi Khusus: Menyesap Sisa Napas Alam
Beberapa tulisan untuk menjembatani bagaimana relasi dahaga, kuasa, dan alam masa kini: AMPAS NEGERI oleh: Mario Kami disuguhkan semburan kemih di atas piring lugu Sambil merekah tawa pincang Dahinya penuh kerut Carut-parut di sekitar Berkelakar semacam kelapa parut Tentu mata bertabur liur “Tolong kami meneguk kemih Pucat warna, begitu pula pandang kami berampas kemih Tiada…
Tolong
Di antara kesedihan itu, tersirat suatu pesan entah apa yang akan terjadi kemudian Diri takut, diri segera semuanya lelap, tolong terlintas di benak, untuk mengakhiri namun itu hanya perkara menyelami hanya diri yang dapat berenang kepermukaan Diri tak bisa, tolong Semua dapat dilalui mudah namun entah hari ini hanya memanen gagal Padahal telah diri mempersembahkan…
Puisi Aku dan Kamus Usangnya
Aku Tersinggung dengan Kamusnya Kalau aku punya banyak Aku mau menunggu Kalau aku punya banyak Aku mau mengerti Kalau aku punya banyak Aku mau berbagi Kalau aku punya banyak sekali Aku mau kamu juga tahu Kamu juga punya banyak Tapi kamu tidak terbaca Kamu juga punya banyak Tapi aku tidak mengerti Kamu juga…
Kursi Kosong di Teras
Saat sampai menapak jejak kereta Tanda sudah kembali pulang Waktu mata menatap jalanan Padahal hati terburu-buru Ingin dipuaskan akan senyum si Mbah Yang selalu terpatri diingatan Namun, bukan manusia namanya Kalau tak menemui kemangkatan Kalau tetap bernapas Nanti banyak penebusan perbuatan “Lebih baik kembali bersemayam, daripada memaksakan badan. Biarlah sukma kembali pada sang…
Andai
Andai aku tau apa yang ada di balik tanganmu Aku tak perlu menerka tanpa menuduhmu Andai aku tau apa yang ingin kau pegang Aku tak perlu memberi banyak janji untukmu Andai aku tau apa yang ada dalam otakmu Aku tak perlu belajar untuk menjadi sesuatu Andai aku tau isi hati mu Andai ku hanya menjadi…

