Puisi-Puisi Edisi Spesial Hari Perempuan Sedunia: “Suara-Suara Yang Melawan”

Perempuan tidak lahir dari satu cerita. Ia hadir dari riwayat panjang tentang keberanian, luka, harapan, dan perlawanan yang tak selalu tercatat dalam sejarah. Kumpulan puisi ini hadir sebagai ruang untuk mengingat, merayakan, sekaligus menyuarakan kembali suara-suara perempuan—yang sering kali terpinggirkan, diremehkan, atau bahkan dibungkam.

Selamat menikmati, salam Persma!

 

Gugur Gema: Perempuan

Gugur gema gumuh

berulang –
tanpa jeda? 

PEREMPUAN!

digantung sebagai kabar.

Tubuhnya ditakar-takar,
dipilin norma, dijahit tatapan,

diperlakukan bak tak bertuan,
diatur, dinilai, bah diperdebatkan.

Rumah yang katanya teduh,
nyatanya menyimpan jerit di balik pintu
jerit yang tak sampai ke halaman,
senyap; lenyap, tak tersingkap.

Di sekujur ruang,

siulan liar mengendus langkah-langkah,
senyum ditawar murah 

seolah kain lebih bersalah
daripada tangan yang rakus

TIKUS!

dihakimi karena bermimpi,
disalahkan karena bertahan,

hancur karena omongan
kolot, serba kurang di mata dunia.

setahun sekali? Tidak, setiap hari!

dimuliakan tanpa kekerasan.

Penulis: Nabila Siti Nur H

 

Terserah

Lampu jatuh
di tubuh penari itu

Tubuhnya siang
Terlalu terang
untuk sebuah rahasia

Gertakan telapak kaki
Lihai menulis lingkaran di lantai
Ia menyibak udara
Selayaknya pendongeng
yang ceritanya jatuh
di antara mata kursi

Baris-baris kursi itu!
Tentu melaris-laris
Terpaut lekat
di pinggul yang bergerak
di dada yang naik turun
di lekuk tubuh
yang mereka sebut nikmat
beberapa tersangkut lebih lama
di garis-manis yang tak ikut menari

Penari itu terus berbahasa

Berlalu
dan mata-kursi masih larut
dalam Tubuh Penari itu

Penulis: Mario

 

Sosok Tak Redup 

Pada fajar yang berpenda,

engkau embun paling setia.

Aksara pertama yang Tuhan tulis, 

Terukir dalam lembar harapan.

 

Di rahimmu waktu belajar sabar, 

di langkahmu sejarah menemukan arah.

Jejak yang kau tinggalkan bukan sekadar 

lintasan, 

melainkan saksi kebangkitan dari puing tak bernama.

 

Dalam diam,

engkau adalah doa yang hidup. 

Di balik senyummu bersemayam kesabaran, 

di balik retinamu menyala keberanian.

 

Kelembutanmu bukan kelemahan,

melainkan kekuatan berselimut cahaya.

 

Wahai perempuan,

engkau bukan bayang dibalik terang,

engkau adalah mentari itu sendiri.

Penulis: Nafis Satur Rohma

 

Pers Tegalboto

Menuju Pencerahan Masyarakat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *