Saat Semua Bidang Ilmu Harus Menjawab: ‘Nanti Lulus Kerjanya Apa?’

(Membaca Wacana Penutupan Prodi yang Dianggap Tidak Relevan dengan Industri)  

Belakangan ini, nilai dan keberhasilan sebuah program studi makin sering diukur dari prospek kerja lulusannya. Bukan lagi soal apa yang dipelajari, bagaimana prosesnya, atau bagaimana ia membentuk karakter dan pola pikir mahasiswanya, padahal pendidikan sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia yang tidak bisa direduksi hanya pada angka keberhasilan kerja semata.

“Kuliah ambil prodi apa? Nanti lulus jadi apa?” pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul dan menjadi tekanan tersendiri bagi mereka yang masih bingung akan prospek kerja jurusannya. Sebuah jurusan yang tidak memberi jawaban pasti kerap langsung dicap bermasalah. Pelan-pelan, muncul pemikiran-pemikiran kolot yang menganggap jurusan tersebut tidak perlu ada karena dianggap tidak memiliki prospek kerja yang jelas atau tidak relevan dengan logika pasar.

Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Seolah-olah nilai sebuah bidang ilmu dalam pendidikan tinggi hanya bisa dicap berhasil ketika ia bisa dikonversi menjadi sebuah pekerjaan, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lainnya. Seolah-olah pendidikan tinggi itu semacam jalur distribusi tenaga kerja: masuk kuliah, keluar jadi karyawan.

Hemat penulis, tidak sepenuhnya keliru jika kuliah hari ini seolah-olah diarahkan untuk kerja, kerja, dan kerja. Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian besar orang datang ke kampus dengan harapan yang sama: memperbaiki hidup dan membuka peluang yang lebih luas untuk terus hidup di kehidupan selanjutnya. Itu wajar.

Namun, masalah mulai muncul ketika tujuan itu hanya dijadikan satu-satunya arah, karena sejatinya esensi dari pendidikan tinggi tidak hanya sebatas pada menyiapkan individu untuk bekerja, tetapi juga bagaimana membentuk kepekaan, kepeduliaan, serta kedewasaan dalam memahami kehidupan.

Ketika kuliah hanya dimaknai sebagai satu-satunya jalan menuju pekerjaan, maka esensi dan seluruh proses dalam pendidikan akan ikut menyempit. Pada akhirnya yang dicari hanya yang praktis-praktis saja, yang cepat dipakai dan yang langsung bisa diuangkan. Sementara hal-hal yang tidak punya nilai instan mulai dianggap tidak relevan. Education is more than just education.

Coba kita lihat bagaimana beberapa bidang ilmu dalam pendidikan tinggi diperlakukan hari ini. Ada bidang-bidang yang lebih mudah terhubung dengan kebutuhan industri karena sifatnya aplikatif dan teknis, sehingga hasilnya cenderung cepat terlihat dalam bentuk keterampilan atau pekerjaan. Namun di sisi lain, ada juga bidang ilmu yang bekerja di ranah berbeda: tidak selalu berorientasi pada hasil yang bisa langsung diuangkan, tidak pula memiliki jalur karier yang linier, tetapi justru berperan dalam membentuk cara berpikir, memperluas cara pandang, serta menopang pemahaman manusia terhadap realitas sosial dan kehidupan secara lebih mendalam.

Ketika semua bidang ini dipaksa tunduk pada ukuran yang sama, yakni ukuran yang selaras dengan logika pasar, maka di situlah masalah akan muncul. Sebab, setiap bidang ilmu memiliki cara kerja, tujuan, dan kontribusi yang berbeda, sehingga tidak semuanya bisa diukur dengan satu indikator yang sama. Sehingga, pertanyaannya bukan lagi soal mana yang lebih penting, melainkan apakah adil jika seluruh ilmu dinilai dengan satu standar yang sama?

Saat ini, kita hidup di masa ketika hampir semua hal dikonversi menjadi nilai ekonomi. Waktu dihitung sebagai produktivitas. Hobi dinilai dari potensi monetisasi. Bahkan relasi sosial pun, kadang, dilihat dari manfaatnya. Dalam konteks seperti ini, tidak heran jika pendidikan tinggi ikut terseret ke dalam arus yang sama. Kampus pelan-pelan diarahkan untuk relevan, atau lebih tepatnya, “sesuai dengan kebutuhan pasar”. Kurikulum disesuaikan dengan industri, jurusan dinilai dari daya serap kerja, dan keberhasilan pendidikan sering kali diukur dari seberapa cepat lulusannya terserap. Sekilas, semua ini terdengar rasional bahkan masuk akal.

Tapi justru di titik inilah kita perlu melihat pendidikan secara lebih utuh. Pendidikan tinggi tidak seharusnya dipahami sebagai kumpulan jurusan yang saling bersaing untuk dianggap paling “berguna”, melainkan sebagai ekosistem pengetahuan yang saling terhubung yang tidak bisa direduksi hanya pada kebutuhan ekonomi semata. 

Maka ketika ada wacana bahwa jurusan yang “tidak relevan” sebaiknya dikurangi atau bahkan dihapus, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan hanya kebijakannya, tapi dasar berpikir di baliknya itu apa.

Apakah kita benar-benar ingin menjadikan pendidikan tinggi sepenuhnya tunduk pada logika pasar? Apakah semua hal memang harus punya nilai jual agar bisa dianggap layak dipertahankan? Atau jangan-jangan, yang bermasalah bukan pada bidang ilmunya, tapi pada sistem yang belum mampu mengelola dan menghubungkan berbagai bidang ilmu itu secara seimbang? 

Come on, wacana tersebut terlalu cepat menyederhanakan persoalan menjadi “jurusan ini berguna, yang itu tidak” hanya karena dianggap tidak relevan dengan dunia industri, tanpa benar-benar melihat bagaimana keseluruhan ekosistem pendidikan itu bekerja.

Jika standar penilaian yang digunakan terlalu sempit (misalnya hanya bertumpu pada daya serap kerja dan kebutuhan pasar) maka yang terlihat “tidak relevan” akan terus bertambah. Bukan karena bidang ilmunya tidak penting, melainkan karena sistem yang ada belum cukup mampu membaca dan mengelola keragaman peran dari setiap bidang ilmu itu sendiri.  Bagaimana setiap bidang diberi ruang untuk berkembang, bagaimana keterhubungan antar ilmu diperkuat, dan bagaimana lulusan dari berbagai latar belakang dapat menemukan serta membangun perannya di tengah masyarakat dengan dukungan dari berbagai pihak, tanpa perlu mereduksi atau mendiskreditkan bidang ilmu tertentu.

 

Penulis: Nabila Siti Nur H.

Editor: Dewi Ningrum

Ilustrasi:

 

Pers Tegalboto

Menuju Pencerahan Masyarakat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *