Nobar Film “Pesta Babi”, Ilmu Sejarah UNEJ Buka Ruang Diskusi Mahasiswa Soal Papua

Jember – Tegalboto, Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi sukses digelar Program Studi (Prodi) Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Jember (UNEJ), Rabu (21/5/2026), di Aula Sutan Takdir Alisjahbana. Kegiatan ini menghadirkan film dokumenter investigatif bertemakan Papua yang belakangan ini  sukses mencuri perhatian masyarakat Indonesia.

Hadir sebagai narasumber, salah satu dosen Prodi Ilmu Sejarah, Dr. Tri Chandra Aprianto, S.S., M.Hum, dengan moderator Alya Aurelia Ananta, mahasiswa Ilmu Sejarah, serta diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai prodi di UNEJ. Diskusi berlangsung intensif dengan partisipasi aktif peserta melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada Narasumber.

Tri Chandra, selaku narasumber menilai bahwa film tersebut cukup memberikan refleksi bagi dunia kampus dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan. “Film ini menurut saya tamparan untuk dunia kampus, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.

Film Pesta Babi sendiri merupakan karya kolaborasi sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Film ini menyoroti kehidupan masyarakat Papua, termasuk praktik budaya, relasi sosial, hingga bayang-bayang kolonialisme yang masih dirasakan sampai saat ini. Melalui pendekatan visual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini menghadirkan realitas yang kerap luput dari pemberitaan arus utama.

Salah satu penggagas kegiatan nobar tersebut, Rifa’i Shodiq Fathoni, dosen Ilmu Sejarah FIB Unej, menyatakan bahwa pemilihan film tersebut bukan tanpa alasan. “Ketika kita mendengar Pesta Babi, kita langsung kepikiran dengan nasib saudara-saudara kita di Papua. Itu tidak boleh menjadi sesuatu yang ditakuti,” terangnya saat diwawancara (21/05).

Rifa’i menegaskan bahwa sebuah film tidak seharusnya diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, terlebih di lingkungan kampus. Kampus, menurutnya, justru perlu menjadi ruang yang terbuka bagi diskusi dan pertukaran gagasan.

Melalui kegiatan semacam ini, Prodi Ilmu Sejarah ingin mendorong mahasiswa agar memiliki perspektif yang lebih luas dan tidak berpikir secara sempit dalam memandang berbagai persoalan. “Nah, sejarah ingin agar mahasiswanya itu mempunyai perspektif yang luas, tidak sempit,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa, selama ini pembahasan mengenai Papua kerap terbatas pada pemberitaan media massa yang belum tentu menjangkau langsung kondisi masyarakat di wilayah tersebut. Melalui penayangan dan diskusi film dokumenter tersebut, Rifa’i menilai mahasiswa dapat melihat Indonesia dari sudut pandang yang jauh lebih luas.

“Di sini kita mendiskusikan bagaimana kondisi Papua saat ini, apa yang seharusnya dilakukan negara, dan apa saja yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan semacam ini dapat membuka perspektif mahasiswa dari berbagai program studi maupun fakultas, tidak hanya dari Ilmu Sejarah saja. “Dengan kita berdiskusi seperti ini saya berharap teman-teman dari fakultas lain, tidak cuma dari sejarah saja, juga lebih terbuka dengan ruang diskusi seperti ini,” tutupnya.

 

Penulis: Slamet Hariyadi

Reporter: Dewi Ningrum dan Puteri Yang D.

Editor: Dewi Ningrum

 

Pers Tegalboto!

Menuju Pencerahan Masyarakat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *