Coba berselancar di internet dengan mencari nama kamu sendiri. Apa yang akan muncul? Bisa jadi akun Instagram, LinkedIn, tulisan yang pernah kamu buat, foto kegiatan kampus, atau bahkan akun lama yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka. Orang yang belum pernah bertemu akan mendapatkan gambaran tentang dirimu hanya melalui apa yang muncul di layar. Gambaran itu mungkin tidak sepenuhnya benar, tetapi tetap dapat membentuk kesan awal tentang siapa dirimu.
Kondisi tersebut mengubah cara seseorang memperkenalkan diri. Jika dahulu seseorang dikenal melalui pertemuan langsung, kini seseorang dapat dikenal melalui media sosial. Foto, tulisan, portofolio, pengalaman organisasi, hingga komentar dapat membentuk gambaran tentang diri seseorang. Personal branding pun semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi mahasiswa.
Istilah personal branding mulai mendapat perhatian luas sejak awal 2000-an, terutama setelah Tom Peters memperkenalkan konsep “The Brand Called You” melalui majalah Fast Company pada 1997. Perkembangannya semakin cepat ketika media sosial mulai digunakan secara luas. Data reportal mencatat sekitar 139 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2024, atau setara dengan 49,9% dari total populasi. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 143 juta pada Januari 2025 dengan tingkat penetrasi mencapai 50,2% dari populasi Indonesia (Kemp, 2024; Kemp, 2025).
Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang komunikasi yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, bukan hanya untuk berinteraksi, tetapi juga untuk memperkenalkan diri, membagikan karya, membangun jaringan, dan menunjukkan keahlian. Perluasan penggunaan media sosial tersebut membuat personal branding semakin relevan karena seseorang memiliki ruang untuk menampilkan identitas, karya, pengalaman, dan keahliannya kepada publik secara langsung.
Mahasiswa mulai diarahkan untuk membangun portofolio, mengelola LinkedIn, mengunggah karya, atau membuat media sosial terlihat lebih profesional. Dunia kerja juga membuat seseorang perlu memiliki cara untuk memperkenalkan kemampuan dan pengalamannya sebelum bertemu secara langsung dengan calon pemberi kerja. Personal branding akhirnya tidak lagi hanya berkaitan dengan selebritas, influencer, atau orang yang ingin terkenal. Mahasiswa, pekerja, pelaku usaha, kreator, bahkan seseorang yang sedang mencari pengalaman kerja juga dapat membangun personal branding melalui ruang digital.
Personal branding sering kali dianggap sebagai usaha untuk membuat diri terlihat lebih menarik. Seseorang mulai memperbaiki tampilan media sosial, membuat portofolio, mengunggah kegiatan, atau menuliskan kemampuan tertentu pada profilnya. Jacobson (2020: 715) menjelaskan personal branding sebagai proses mengembangkan dan mengelola informasi pribadi sehingga orang lain dapat memahami identitas seseorang dengan lebih mudah. Media sosial kemudian menjadi salah satu ruang untuk melakukan proses tersebut.
Kita melihat orang lain memiliki portofolio yang bagus, lalu merasa harus memiliki hal serupa. Kita melihat seseorang aktif membuat konten, kemudian merasa perlu ikut membuat konten. Kita melihat orang lain mendapatkan banyak pengikut, lalu menganggap jumlah pengikut sebagai ukuran keberhasilan. Tanpa disadari, personal branding yang seharusnya membantu seseorang mengenalkan dirinya justru dapat berubah menjadi perlombaan untuk mendapatkan pengakuan.
Menurut saya yang telah berkecimpung dalam bidang social media specialist selama kurang lebih 3 tahun, personal branding tidak seharusnya dimulai dari pertanyaan, “Apa yang harus saya unggah?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Saya ingin dikenal sebagai siapa?” Pertanyaan tersebut membuat kita kembali melihat diri sendiri sebelum sibuk memikirkan cara orang lain melihat kita. Seseorang perlu mengetahui apa yang disukai, apa yang dikuasai, apa yang sedang dipelajari, dan pengalaman apa yang dapat ditawarkan. Setelah itu, media sosial dapat digunakan untuk menyampaikan hal-hal tersebut.
Hal ini terasa semakin penting bagi mahasiswa yang mulai mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Penelitian Trang, McKenna, Cai, dan Morrison (2024) menunjukkan bahwa mahasiswa Generasi Z menggunakan personal branding di media sosial dalam konteks pencarian kerja. Penelitian tersebut juga menemukan adanya jarak antara citra diri yang ingin ditampilkan dengan citra tersebut dipersepsikan oleh orang lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa personal branding bukan hanya persoalan membuat diri terlihat baik, tetapi juga seseorang membangun citra yang tetap memiliki hubungan dengan dirinya sendiri. Karena itu, menurut saya, istilah “menjual diri” perlu dipahami secara lebih hati-hati. Dalam dunia profesional, menunjukkan kemampuan bukan sesuatu yang memalukan.
Fotografer menunjukkan karya agar calon klien mengetahui kemampuannya. Penulis membagikan tulisan agar orang mengetahui bidang yang dikuasainya. Desainer membuat portofolio agar hasil pekerjaannya dapat dilihat. Mahasiswa mengunggah pengalaman organisasi atau proyek yang pernah dikerjakan agar calon pemberi kerja mengetahui kemampuan yang dimiliki. Semua itu merupakan bentuk memperkenalkan diri.
Masalahnya bukan pada tindakan memperkenalkan diri, melainkan ketika apa yang ditampilkan sudah terlalu jauh dari kenyataan. Seseorang dapat memilih sisi tertentu untuk ditampilkan tanpa harus memalsukan dirinya. Seseorang juga tidak harus membagikan seluruh kehidupan pribadi untuk membuktikan bahwa dirinya autentik. Penelitian Surendra, Laily, dan Eriend (2025) terhadap mahasiswa Indonesia dan Filipina menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan media sosial untuk melakukan digital self-presentation dan mengelola cara dirinya ditampilkan kepada audiens yang berbeda.
Kita tetap memiliki hak untuk memilih bagian mana yang ingin dibagikan kepada publik. Kita dapat menunjukkan karya tanpa menceritakan seluruh kehidupan pribadi. Kita dapat membangun citra profesional tanpa menjadikan setiap aktivitas sebagai konten. Kita dapat memiliki akun yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda. Personal branding tidak harus membuat kehidupan seseorang terbuka sepenuhnya kepada publik.
Saya melihat personal branding sebagai cara untuk memperkenalkan diri, bukan menciptakan diri yang baru. Kita boleh mengemas kemampuan agar lebih mudah dipahami orang lain. Kita boleh memilih karya terbaik untuk ditampilkan. Kita boleh memperhatikan bagaimana tulisan, foto, atau unggahan kita dipersepsikan. Hal tersebut tidak otomatis membuat kita palsu. Justru, kemampuan memilih apa yang ingin ditampilkan merupakan bagian dari kesadaran terhadap diri sendiri dan audiens.
Pada akhirnya, personal branding mungkin memang memiliki sedikit unsur “menjual diri”, tetapi menjual diri tidak selalu berarti berbohong. Ada kalanya kita hanya sedang memberi tahu orang lain tentang apa yang bisa kita lakukan. Persoalan yang perlu dijaga adalah jarak antara citra dan kenyataan. Ketika seseorang terlalu sibuk membangun citra sampai lupa mengenali dirinya sendiri, personal branding kehilangan fungsi awalnya.
Sekali lagi personal branding bukan tentang menciptakan diri untuk dilihat orang lain. Personal branding adalah tentang menentukan bagian mana dari diri kita yang memang layak diperkenalkan.
Daftar Pustaka
Jacobson, J. (2020). You are a brand: Social media managers’ personal branding and “the future audience.” Journal of Product & Brand Management, 29(6), 715–727. https://doi.org/10.1108/JPBM-03-2019-2299
Kemp, S. (2024). Digital 2024: Indonesia. DataReportal. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia
Kemp, S. (2025). Digital 2025: Indonesia. DataReportal. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia
Peters, T. (1997). The brand called you. Fast Company, August/September 1997, 83. https://www.fastcompany.com/28905/brand-called-you
Surendra, G., Laily, H. I., & Eriend, D. (2025). Digital self-presentation: Personal branding strategies on social media among students in Indonesia and the Philippines. Proceeding of The 5th ASPIKOM International Communication Conference (AICCON 2025), 657–664. https://doi.org/10.31947/aiccon2025.v1i2.47694
Trang, N. M., McKenna, B., Cai, W., & Morrison, A. M. (2024). I do not want to be perfect: Investigating Generation Z students’ personal brands on social media for job seeking. Information Technology & People, 37(2), 793–814. https://doi.org/10.1108/ITP-08-2022-0602
Penulis: Mario
Penyunting: Dewi Ningrum
Ilustrasi: Redaktur Artistik
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!

