Kalcer: Tren atau Label Sosial Baru?

Pernahkah Mastebe mendengarkan istilah seperti “pelari kalcer” dan “outfit kalcer”? Istilah tersebut semakin marak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda dan mulai populer pada awal tahun 2020-an. Kehadirannya yang masif di media sosial menimbulkan pertanyaan mengenai posisinya dalam masyarakat. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah “kalcer” hanya sekadar tren atau telah bergeser menjadi label sosial baru?

Istilah “kalcer” merupakan adaptasi dari kata culture (budaya) dalam bahasa Inggris. Pengertian asli kata tersebut mencakup nilai, kebiasaan, serta praktik sosial yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat. Namun, penggunaan istilah culture saat ini mengalami pergeseran makna. Kata tersebut kini lebih sering digunakan sebagai penanda sesuatu yang dianggap keren, estetis, dan sesuai dengan tren di media sosial.

Fenomena penggunaan istilah “kalcer” tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial sebagai ruang utama penyebaran dan pembentukan maknanya. Laporan Digital 2024: Indonesia oleh DataReportal menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 139 juta pengguna media sosial aktif. Tingginya penggunaan media sosial membuat berbagai istilah populer lebih mudah menyebar dan diterima masyarakat. 

Penggunaan istilah “kalcer” dalam berbagai konten media sosial memperlihatkan bagaimana sebuah istilah dapat membentuk makna secara kolektif. Kata “kalcer” dalam penggunaannya sering disandingkan dengan aktivitas atau gaya hidup tertentu, seperti “pelari kalcer”, “outfit kalcer”, dan kalcer-kalcer lainnya. Penyebutan tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap mengikuti tren, memiliki nilai estetika, dan sesuai dengan budaya populer di media sosial.

Salah satu istilah yang cukup sering muncul adalah “pelari kalcer”. Sebutan ini umumnya digunakan dalam konten yang menampilkan aktivitas lari dengan penekanan pada aspek visual, seperti outfit, sepatu, smartwatch untuk kebutuhan rekaman aktivitas yang berisikan pace lari, jarak tempuh, heart rate, dan sebagainya. Konten semacam ini banyak ditemukan melalui tagar seperti #pelarikalcer, #runnersoftiktok, #runninglifestyle, dan #5krun di TikTok maupun Instagram. Aktivitas olahraga yang sebelumnya lebih berfokus pada kesehatan kini mulai dipengaruhi oleh kebutuhan untuk tampil menarik di media sosial.

Popularitas istilah “pelari kalcer” juga terlihat dari munculnya lagu berjudul Pelari Kalcer yang dibawakan oleh Sastra Silalahi dan Mamang Kesbor pada tahun 2025. Lagu tersebut menggambarkan fenomena pelari yang lebih menonjolkan gaya hidup, outfit, dan konten media sosial dibandingkan tujuan olahraga itu sendiri. Hal tersebut terlihat dari penggalan lirik “Panggil aku, pelari kalcer/Panggil aku, pelari konten/Gapapa pace keong, yang penting gayaku paten” jika ditilik tentu penggalan lirik tersebut menyindir kecenderungan sebagian orang menjadikan olahraga sebagai bagian dari pencitraan di media sosial. Kehadiran lagu tersebut menunjukkan bahwa istilah “pelari kalcer” telah berkembang menjadi bagian dari budaya populer di ruang digital. .

Selain itu, muncul pula istilah “outfit kalcer” yang digunakan untuk menandai gaya berpakaian tertentu yang dianggap sesuai dengan tren. Unggahan semacam ini biasanya disertai tagar seperti #outfitkalcer, #ootd, #outfitinspo, dan #streetstyle. Berbeda dengan gaya berpakaian seperti gothic atau punk yang memiliki latar budaya, identitas, dan karakter yang jelas, “outfit kalcer” tidak memiliki kiblat budaya tertentu. Gaya ini lebih banyak dibentuk oleh tren media sosial yang terus berubah mengikuti algoritma dan popularitas konten. Penilaian terhadap pakaian dalam konteks tersebut akhirnya tidak lagi didasarkan pada fungsi atau kenyamanan, tetapi pada kesesuaiannya dengan standar estetika yang sedang populer di media sosial. Dalam hal ini, istilah “kalcer” berfungsi sebagai alat klasifikasi sosial. 

Kehadiran label “kalcer” secara tidak langsung juga menciptakan standar sosial baru di media digital. Media sosial tidak lagi hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena pembentukan identitas dan pencarian pengakuan sosial. Fauzan dan Harahap (2025:14) menjelaskan bahwa validasi digital melalui likes, komentar, dan followers sering kali dijadikan tolok ukur penerimaan sosial di kalangan pengguna media sosial. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk mengikuti tren agar dianggap relevan di lingkungan digital.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang pembentukan identitas sosial. Hal yang dianggap menarik dan relevan sering kali ditentukan oleh respons publik di media sosial, seperti jumlah tayangan, komentar, dan apresiasi dari pengguna lain. Kondisi tersebut memunculkan kecenderungan perilaku performatif (perilaku yang dilakukan untuk membangun kesan tertentu di hadapan orang lain). Aktivitas sehari-hari akhirnya tidak lagi dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk mendapatkan validasi sosial dari lingkungan digital.

Jika terus berkembang tanpa disadari, penggunaan label seperti “kalcer” dapat memperkuat budaya penilaian sosial yang dangkal. Nilai seseorang perlahan diukur dari seberapa relevan mereka dengan tren yang sedang populer di media sosial. Kondisi tersebut berisiko membuat media sosial menjadi ruang kompetisi citra dibandingkan ruang ekspresi diri yang sehat.

Perkembangan penggunaan istilah “kalcer” menunjukkan bahwa istilah tersebut tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai tren bahasa yang bersifat sementara. “Kalcer” telah berkembang menjadi label sosial yang memengaruhi cara masyarakat menilai diri sendiri maupun orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga membentuknya. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan istilah populer agar tidak terjebak pada penilaian sosial yang semata-mata berorientasi pada tren.

 

Penulis: Mario

Penyunting: Dewi Ningrum

 

Pers Tegalboto

Menuju Pencerahan Masyarakat

 

 

Daftar Rujukan

Silalahi S., Kesbor M. 2025. Pelari Kalcer. Diakses 9 Mei 2026. https://genius.com/Sastra-silalahi-pelari-kalcer-lyrics

DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. Diakses 9 Mei 2026. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia

Fauzan J., Harahap H. 2025. Peran Instagram dalam pembentukan identitas remaja di era digital. Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi. https://journal.stmiki.ac.id/index.php/jimik/article/download/1564/1072

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *