Tegalboto–Jember, Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (Imasind) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember sukses menggelar Teater Akbar 2026 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Sabtu malam (31/10). Pementasan teater kali ini membawakan judul “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin C. Noer.
Pementasan teater dimulai pukul 19.30 WIB dengan setting panggung di sebuah pabrik es. Para tokoh beradu akting dengan gaya busana, tata rias, ilustrasi, dan sorot lighting yang kompleks untuk mendukung suasana gagasan yang berusaha disampaikan.
Rehan mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2025 sebagai Dramaturgi menyampaikan bahwa gagasan yang diusung tentang sebuah kejujuran. Pementasan ini menyoroti nilai norma yang menurutnya sudah jungkir balik.
“Manusia-manusia yang di atas panggung adalah manusia yang mengharapkan kejujuran. Namun, naasnya mereka hidup di daerah yang kebohongan itu sudah menjadi sebuah hal lumrah,” ungkapnya.
Susunan kata pada tema juga memiliki pemaknaan tersendiri, kata “Matahari” dimaknai sebagai sinar matahari dari sebuah harapan dan “Jalan Kecil” yaitu bentuk representasi dari kondisi para tokoh yang hidup di sebuah lingkup kecil.Tema yang diusung secara keseluruhan diharapkan mampu menyampaikan harapan orang-orang kecil pada sinar kejujuran, supaya kebohongan tidak terjadi pada setiap sendi kehidupan.
Rehan berpendapat bahwa acara malam ini dilalui oleh panitia dengan tidak mudah. Setiap proses perencanaan hingga berlangsungnya acara terdapat banyak kendala. Ego dari masing-masing panitia tidak akan teratasi jika niat mereka tidak teguh untuk menyelesaikan teater akbar ini.
Didik Suharijadi selaku Kepala Program Studi Sastra Indonesia, menyampaikan apresiasi terhadap para panitia Teater Akbar 2026. Menurutnya, pengorbanan tidak hanya dilakukan oleh para aktor dan panitia yang bekerja di balik layar, tapi juga para orang tua yang telah mendukung anak-anaknya untuk berkembang melalui pementasan.
“Orang tua kalian sudah banyak berkorban untuk memberikan kalian kesempatan berkarya, karena itu mari ke depannya ketika berkarya lebih diniati,” ucapnya ketika sesi apresiasi.
Didik juga menyoroti tanangan terbesar yang dihadapi aktor. Saat ini, kehidupan anak muda cenderung berpusat pada dunia maya sehingga kurang paham tentang cara dunia bekerja. Tantangan itu menjadikan aktor harus mengorbankan waktunya lebih lama untuk belajar soal kebudayaan agar bisa sepenuhnya masuk pada penokohan yang diperankan.
Penulis: Vini’matu Hikmah
Reporter: Awak Tegalboto
Penyunting: Dewi Ningrum
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!

