KALA SENYAP YANG DISULAP: SENI DARI HALAMAN BELAKANG

Suasana malam yang biasanya sunyi, kala itu berbeda saat Komunitas Tamasya Halaman Belakang menggelar pameran seni penuh makna. Panggung disusun sederhana dengan latar belakang bambu-bambu yang menjulang. Sorot lampu warna-warni yang apik, seakan menggambarkan rupa kebahagiaan yang tidak sekadar dicari, namun sengaja dibuat dan diciptakan bersama-sama. Pelaku seni unjuk diri dengan berbagai aksi dan ekspresi. Lantunan tiap kata berhasil membawa pesan yang kokoh. Melalui momen ini, seni bukan hanya pertunjukan, melainkan ruang dalam menyampaikan makna.

Tepat di sisi kanan panggung, karya visual terpajang dengan sempurna, menunjukkan ilustrasi wajah masyarakat, botol, dan aliran air, kemudian disertai tulisan “Jogo Banyu” dan “Banyuku Ora Didol”. Visual tersebut mempertegas kondisi masyarakat Lingkungan Sumber Beringin, goresan tinta itu mengingatkan kembali, bahwa relasi manusia dengan alam bukan sekadar kebutuhan, melainkan ikatan yang mendasar. Lampu sorot kuning menyiratkan kehangatan di tengah gejolak yang dialami masyarakat. Permainan tradisional bakiak dan egrang menjadi sarana edukatif untuk mendorong peningkatan, serta wujud upaya mempertahankan nilai-nilai budaya yang melekat di masyarakat. Fokus area tersorot lampu kuning menciptakan nuansa hangat bagi anak-anak yang menikmati permainan tradisional.

 

Penulis: Nia Damayanti & Puteri Yang Dinanti

Penyunting: Laili Hikmiah

 

Pers Tegalboto 

Menuju Pencerahan Masyarakat

Leave a Reply