DKK FIB Universitas Jember Gelar Visual Art Exhibition “Muda Mudi Mudo Vol.2: Layers”

Jember, Tegalboto — Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember menggelar Visual Art Exhibition bertajuk “Muda Mudi Mudo Vol.2: Layers” selama tiga hari, 9–11 Desember 2025, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember. Pada edisi kedua ini, pameran mencoba membongkar lapisan identitas serta keresahan anak muda melalui instalasi dan karya visual yang lebih eksperimental.

Pameran berlangsung selama tiga hari dengan agenda berbeda setiap harinya. Hari pertama menjadi rangkaian paling padat, dimulai dengan exhibition tour pukul 14.00-17.00 WIB dan dilanjutkan bedah karya bersama kurator pada 18.00-21.00 WIB. Hari kedua difokuskan pada exhibition tour, sementara hari ketiga ditutup dengan sesi respons karya, yang memberi ruang bagi pengunjung untuk menyampaikan tanggapan langsung terhadap karya yang dipamerkan.

Produser pameran, Averina Firstly, menjelaskan bahwa tema dan gagasan pameran berangkat dari keresahan para pengkarya yang dekat dengan realitas masyarakat.

“Pengkaryaan ini dibuat agar relate dengan masyarakat, semua gagasan berasal dari keresahan para pengkarya. Untuk temanya sendiri kita mengambil utopis dan folks, dua kata ini mendasari gagasan dari masing-masing pengkarya,” jelasnya pada Rabu (10/12) 2025.

Averina menambahkan, setiap karya melalui proses kurasi berlapis. Para pengkarya diminta membawa sedikitnya tiga gagasan awal untuk didiskusikan bersama kurator.

“Setelah satu gagasan dianggap matang, tim melakukan brainstorming bersama untuk merealisasikannya menjadi bentuk visual yang dekat dengan keseharian pengkarya,” lanjutnya.

Asisten kurator pameran, Maharani Novia, mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam proses kurasi adalah menjaga agar gagasan para pengkarya tetap berada dalam lingkup tema tanpa menghilangkan kebebasan berekspresi. “Kami berusaha mengarahkan gagasan agar tidak melenceng dari tema, tetapi tetap tanpa intervensi berlebihan,” ujarnya, Rabu (10/12).

Ia menambahkan, pameran ini melibatkan 18 pengkarya dengan total 16 karya, salah satunya merupakan karya kolaboratif yang digarap oleh empat orang. Karya kolaboratif tersebut kemudian diposisikan sebagai judul besar pameran yang menghubungkan benang merah antarkarya individual.

Melalui karya yang dipamerkan, Baghas Dwi Prakoso, Riski Rosalinda, Muhammad Aiman Hannan, dan Rama Ryan Adidarma mengangkat romantisme masa kecil sebagai refleksi kebebasan berekspresi yang perlahan tergerus oleh tuntutan sosial dan tanggung jawab.

Mereka menilai banyak individu akhirnya tidak mampu menjadi diri sendiri karena terus dibenturkan pada ekspektasi dan batasan sosial. “Dahulu kita pernah seberani itu untuk mengambil risiko agar bisa bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan,” ujar Baghas, salah satu pengkarya.

Sejumlah pengunjung menilai pameran ini berhasil menyentuh pengalaman personal. Azza mengaku beberapa karya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang mengangkat isu keluarga, kasih sayang, dan tekanan dalam rumah tangga.

Hal serupa disampaikan Vina Andriani. Menurutnya, karya balet dan instalasi kain perca mampu menyinggung realitas di balik standar kesempurnaan serta strata pekerjaan yang kerap dilekatkan pada identitas seseorang. “Pameran ini relevan dengan kondisi generasi muda yang sering menghadapi tekanan keluarga. Lewat karya-karya ini, hal-hal yang terpendam bisa diungkapkan dan diolah menjadi karya,” ujarnya.

 

penulis: Faris Eka

penyuting: Muh Slamet Hariyadi

 

Pers Tegalboto

Menuju Pencerahan Masyarakat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *