Jember, Tegalboto — Komunitas Tamasya Halaman Belakang sukses menggelar acara bertema “Spring Code”, pada Minggu (28/09), di Desa Karangrejo, Kecamatan sumbersari. Acara ini digelar sebagai wujud laboratorium seni dan literasi inklusif lintas disiplin.
Spring Code merupakan bagian dari Sesarengan Jatim Biannale XI, yang memberikan ruang terbuka bagi individu maupun forum untuk menyelenggarakan kegiatan seni budaya di Jawa Timur pada periode Agustus–September 2025.
Acara Spring Code berlangsung selama tiga hari, dari 26 hingga 28 September. Kegiatan dibuka pada 26 September dengan bersih-bersih sumber mata air bersama masyarakat Karangrejo. Hari berikutnya, 27 September, acara dilanjutkan dengan jelajah sumber mata air bersama Yuda Prabowo, dan malam harinya menampilkan pementasan Jarum oleh siswa SDN Karangrejo 6.
Pada hari terakhir, 28 September, rangkaian kegiatan dimulai dengan workshop cetak Antotype oleh M. Fariz dan workshop cukil grafis oleh seniman THB, diikuti presentasi karya instalasi oleh Ivan, Nur, Nabila, Prima, Adam, Zizudh, Bakti Dasgro, dan IMASIND Unej.
Sore hingga malam harinya, acara dilanjutkan dengan FGD bertajuk “Merawat Jejaring Komunitas sebagai Infrastruktur Alternatif”, sebelum akhirnya ditutup dengan penampilan musik dari orkes keroncong Kremes asal Situbondo dan band musik tradisi-eksperimental Lajhuni Munyi dari Bondowoso.
Ivan Nabil, pimpinan produksi Spring Code, menjelaskan bahwa tema acara bermakna sebuah ingatan yang terjadi sebelum keran dibuka, sekaligus menyoroti isu mata air yang mulai tergeser oleh ekspansi kota. Fokusnya juga pada nasib sumber mata air yang kini mulai dilupakan masyarakat.
“Pembicaraan soal isu mata air tidak hanya memikirkan nasibnya saja, tetapi juga menelusuri sejarah masa lampau dengan harapan dapat memprediksi masa depan sumber mata air. Zaman dulu mata air menjadi pusat kehidupan, tapi kini ketika kota mulai meluas, air hanya dipahami sebagai fungsinya saja,” ujar Yuda.
Acara Spring Code mendapatkan respons positif dari masyarakat sekitar, karena tidak hanya mengenalkan budaya, seni, dan alam, tetapi juga memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi muda.
“Acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik anak-anak. Saya memberitahu mereka manfaat sumber mata air bagi lingkungan dan memperkenalkan permainan tradisional yang mulai ditinggalkan. Acara ini juga memperkenalkan daerah kami dan sumber mata air yang ada di desa kami,” ujar Megawati, warga Desa Karangrejo.
Acara Spring Code yang digelar Komunitas Tamasya Halaman Belakang bukanlah akhir dari rangkaian kegiatan tiga hari tiga malam. Acara ini justru menjadi titik awal dari perjalanan panjang terkait seni, kebudayaan, dan isu sumber mata air.
“Harapan kami ke depan adalah membangun keterhubungan antara manusia dan alam. Alam memberikan manfaat karena alam memiliki hak yang sama dengan kita, dan saya berharap acara ini terus berlanjut, bahkan bisa menjadi acara tahunan” tutupnya.
Penulis: Atiya
Penyunting: Nia Damayanti
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!
