Di penghujung hari yang riuh,
biasanya aku kembali dengan tubuh yang letih,
membiarkan lelah menutup mata
tanpa banyak bicara.
Tapi malam ini berbeda.
Ada sesuatu yang terus berputar di kepala,
seperti gema dari percakapan singkat yang
belum sempat reda.
Setiap kali mata terpejam,
terbayang senyummu yang datang
bersamaan dengan tanya:
“Apa kabar?”
Sederhana. Tapi kesederhanaan itu,
seolah waktu ingin berhenti sejenak
di antara tatap dan sapa.
Barangkali pertemuan singkat itu
justru yang paling lama menetap
di sudut ingatanku.
Mungkin begitulah cara semesta berbisik
bahwa momen seolah sengaja diciptakan
untuk tinggal lebih lama,
sejenak melampaui
waktu yang seharusnya.
Dan hingga larik-larik ini kutuliskan,
biarlah mereka menjadi tanda
bahwa malam masih bergeming gelisah,
enggan menyerahkan dirinya
pada tenang yang kupinta.
Yang pasti,
malam ini tidak sepenuhnya tenang.
Karena ternyata, bahagia juga bisa
membuatku begadang.
November, 2025
penulis: Wulan Faradila
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!

