Film panjang Pangku, film ini merupakan debut Reza Rahadian sebagai sutradara yang diproduksi oleh gambar gerak film. Film ini rilis pertama kali di bioskop, pada 6 November 2025, sukses meraih jumlah penonton sebanyak 505.570 di seluruh bioskop Indonesia. Diperankan oleh beberapa aktor dan aktris, seperti Claresta Taufan sebagai Sartika, Christine Hakim sebagai Maya, Fedi Nuril sebagai Hadi, Shakeel Fauzi sebagai Bayu, dan Devano Danendra sebagai Gilang.
Film yang mengangkat tema utama keluarga ini, menceritakan tokoh Sartika sebagai ibu tunggal yang sedang hamil dan terpaksa menumpang ke truk menuju pantura untuk mencari pekerjaan, mendadak sopir truk menurunkan Sartika ke lingkungan yang terkenal dengan wilayah “kopi pangku”. Sartika yang tidak tahu wilayah tersebut, berhenti di depan warung Maya, perempuan paruh baya yang hidup dengan kemiskinan. Setelah pertemuan tersebut, Sartika hidup bersama bu Maya dan suami seperti layaknya anak perempuannya sendiri. Dengan garis kemiskinan dan keterbatasan lapangan pekerjaan bagi perempuan di wilayah Pantura, Sartika terpaksa menekuni pekerjaannya sebagai perempuan “kopi pangku” di warung bu Maya, untuk menghidupi kebutuhan dirinya dan anaknya Bayu.
Dengan backsound lagu berjudul Ibu dari Iwan Fals, menambah suasana rasa “memelas” dan kesedihan yang dalam tentang sosok Sartika sebagai orang tua tunggal, untuk memperjuangkan anaknya agar hidup layaknya teman seumuran dengan bersekolah, lalu sosok Maya sebagai ibu angkat Sartika yang memberikan kekuatan sekaligus dorongan agar Sartika terus berjuang dan bertahan di tengah krisis keadaan.
Film ini dengan luar biasa menyuguhkan keadaan Pantura yang seadanya sebagai wilayah yang panas dan gerah, sampai penonton ikut merasakan realitas tersebut. Pangku tidak hanya sebagai film yang menyoroti sisi lain kehidupan di Pantura yang memiliki kekayaan hasil laut dan industri saja, namun juga menyoroti realita perjuangan seorang ibu dan realita kehidupan di pesisir yang kaya dengan hasil lautnya.
Lewat tokoh Maya, sebagai pemilik toko kopi pangku. Menjadi seorang ‘ibu’ tidak harus memiliki ikatan darah dan maksud tujuan tertentu, menjadi seorang ‘ibu’ tidak harus dipertemukan dengan sengaja sejak lahir, dengan pertemuan yang tidak disengaja kapan saja, di mana saja, dan keadaan apapun bisa menjadi sosok ‘ibu’ bagi orang yang membutuhkan pertolongan dan dukungan untuk terus hidup.
Penulis: Atiya Num’atul Salsabila
Penyunting: Nia Damayanti
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat

