Tentang Malam yang Menolak Tenang

Di penghujung hari yang riuh, biasanya aku kembali dengan tubuh yang letih, membiarkan lelah menutup mata tanpa banyak bicara.   Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang terus berputar di kepala, seperti gema dari percakapan singkat yang belum sempat reda.   Setiap kali mata terpejam, terbayang senyummu yang datang bersamaan dengan tanya: “Apa kabar?” Sederhana….

Baca Selengkapnya

ELEGI ESOK HARI

Terjatuh, Tersungkur, Bersyukur. . Tangga yang kutapaki kian meninggi Langkah kaki yang kian ringkih Nafas pendek, layak untuk mati Buang jauh-jauh pesimisme mimpi   Tangga menjadi lebih dangkal Langkah yang terjungkal Nafas telah menemui pangkal Kian berharap hidup kekal   Duhai para mimpi Telah ku umumkan, Bahwa kaki ku patah dalam mengejarmu   Aduhai mimpi-mimpi…

Baca Selengkapnya

Puisi-Puisi Edisi Khusus: Menyesap Sisa Napas Alam

Beberapa tulisan untuk menjembatani bagaimana relasi dahaga, kuasa, dan alam masa kini: AMPAS NEGERI oleh: Mario Kami disuguhkan semburan kemih di atas piring lugu Sambil merekah tawa pincang Dahinya penuh kerut Carut-parut di sekitar Berkelakar semacam kelapa parut Tentu mata bertabur liur “Tolong kami meneguk kemih Pucat warna, begitu pula pandang kami berampas kemih Tiada…

Baca Selengkapnya

Tolong

Di antara kesedihan itu, tersirat suatu pesan entah apa yang akan terjadi kemudian Diri takut, diri segera semuanya lelap, tolong terlintas di benak, untuk mengakhiri namun itu hanya perkara menyelami hanya diri yang dapat berenang kepermukaan Diri tak bisa, tolong Semua dapat dilalui mudah namun entah hari ini hanya memanen gagal Padahal telah diri mempersembahkan…

Baca Selengkapnya

Puisi Aku dan Kamus Usangnya

Aku Tersinggung dengan Kamusnya   Kalau aku punya banyak Aku mau menunggu Kalau aku punya banyak Aku mau mengerti Kalau aku punya banyak Aku mau berbagi Kalau aku punya banyak sekali Aku mau kamu juga tahu   Kamu juga punya banyak Tapi kamu tidak terbaca Kamu juga punya banyak Tapi aku tidak mengerti Kamu juga…

Baca Selengkapnya

Kursi Kosong di Teras

Saat sampai menapak jejak kereta Tanda sudah kembali pulang Waktu mata menatap jalanan Padahal hati terburu-buru Ingin dipuaskan akan senyum si Mbah Yang selalu terpatri diingatan   Namun, bukan manusia namanya Kalau tak menemui kemangkatan Kalau tetap bernapas Nanti banyak penebusan perbuatan   “Lebih baik kembali bersemayam, daripada memaksakan badan. Biarlah sukma kembali pada sang…

Baca Selengkapnya

4PI! 2pi, 2pi, 2pi! 

Hendak menepi kini ditepis Jalan itu berapi-api Maka pipi berpeluh getir Kendati lidah meludahi api   API!   Perciknya membuat buta Tolong! Ku tak mau disumpal Cepat sekali menjalar sepi Tak habis pikir berakhir sinis API! Tolong! aku ditelan api!   Orang baru, orang lama satu soal bermuka ribu sering bersiteru, senang berlamat-lamat kan tahu…

Baca Selengkapnya

Puisi-puisi Nadiyah

NUANSA PINK   Nuansa Florist tercantum tujukan merek dari mana ia berasal Berlogo kembang tersemat di samping merek dalam lipatan kertas terbagi lima Lima lipatan kertas cokelat kokoh berdiri di atas kapas bersumber kehidupan yang menopangnya Yaitu kembang nuansa pink di dalamnya   Sebenarnya Dia inginkan warna, pada bunga yang pernah ditanya Warna pink disetiap…

Baca Selengkapnya

Sesekali Memasihkan Bapak

Waktu masih setinggi tunas kelapa bapak sesekali mengamit badan lalu memastikan setiap sayang sudah melumuri muka karena ia yakin dinasnya sampai petang.   Kalau pulang aku yang masih versi kemasan akan menyambanginya di depan rumah sambil merentangkan tangan meminta dekapan.   Kadang-kadang pulang membawa kotak mainan mahal–mahal kasih sayang. Karena dilumuri oleh pelumas badan ketika…

Baca Selengkapnya

Dear My Self

Dear my self, Aku tak tau usaha mana yang ku lakukan yang mengantarkan mu pada kesuksesan. Aku juga tidak tau secara pasti apa yang sedang ku lakukan. Tapi ku yakin, kita sedang membuat pola. Entah pola apapun itu jadinya dimasa depan. Bukankah kau dititik ini merupakan hasil dari lompatan-lompatan energi yang kau lakukan? Bukankah kau…

Baca Selengkapnya