Jember, Tegalboto — Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember menghadirkan pementasan teater berjudul “Kereta Akan Datang” pada Kamis (16/10), di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember. Beraliran surealisme yang berpadu dengan realisme panggung, pementasan tersebut menciptakan atmosfer antara dunia nyata dan ruang mimpi yang mampu menyihir penonton saat melihatnya.
Bagas Dwi Prakoso selaku sutradara teater “Kereta Akan Datang” memaparkan konsep pementasan yang digarapnya tersebut. Menurut Bagas, kisah tersebut menggambarkan sosok tukang becak dengan harapan besar terhadap hidupnya.
“Kisah ini menggambarkan seorang tukang becak dengan harapan yang sangat tinggi. Panggung dibagi menjadi dua bagian: bagian atas merepresentasikan dunia utopis, sementara bagian bawah menggambarkan realitas kehidupan,” ujarnya.
Pementasan ini menghadirkan delapan tokoh yang merepresentasikan potret masyarakat kelas bawah, yakni tukang becak, penjual cangcimen, penjual koran, pelacur, satpam, orang gila, ibu, dan anak. Masing-masing tokoh membawa kisah serta keresahan hidupnya sendiri, namun disatukan oleh penantian akan datangnya kesejahteraan.
Ibu dan anak digambarkan berada di panggung bagian atas sebagai simbol dunia utopis yang penuh harapan, sedangkan tokoh lainnya tampil di panggung bawah yang menggambarkan realitas hidup yang keras dan penuh ketidakpastian.
Pementasan Teater “Kereta Akan Datang” tidak hanya menyoroti perjuangan kelas pekerja, tetapi juga menyelami dimensi batin manusia tentang harapan, penantian, dan kenyataan yang kerap tak seindah impian.
Lebih jauh, Bagas mengungkapkan makna di balik pementasan “Kereta Akan Datang”. Ia menyebut, lakon tersebut menjadi refleksi atas realitas sosial yang tak kunjung berubah bagi masyarakat kecil.
“Masyarakat kecil yang menunggu kesejahteraan masih stuck dari dulu hingga sekarang. Hanya ingin memberi tahu kepada teman-teman, bahwa rakyat kecil juga boleh untuk berpikir, bergerak, dan menuntut kesejahteraan haknya,” jelasnya.
Sementara itu, Dewi Ningrum, salah satu penonton, membagikan kesannya setelah menyaksikan teater tersebut. “Momen paling menarik yaitu bagian akhir ketika saling menyorot panggung atas dan bawah yang menampilkan plot twist,” ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh panitia, aktor, dan penonton sebagai tanda berakhirnya pementasan tersebut.
Penulis: Faris Eka
Penyunting: Inas Masyura
Pers Tegalboto
Menuju Pencerahan Masyarakat!
